Ada postingan menarik di sebuah platform. Mengenai fakta dan konteks. Baik, saya akan ulas hal tersebut (kembali ke fakta dan konteks) dengan fenomena yang sering kita alami. . . . Seperti kasus demikian: Fakta : Ukuran sepatu saya 38,5. Belum tentu ukuran tersebut dikatakan kegedean/ kekecilan. Menilai fakta harus dikorelasikan dengan konteks. Konteksnya bisa berupa hal-hal yang mempengaruhinya. Fakta dari ukuran sepatu 38,5 dikorelasikan dengan tinggi badan 160 cm dan berat badan (berkaitan dengan volume). Dalam hal ini berat badan hampir sedikit mempengaruhi lebar ukuran sepatu. Tapi tidak terlalu berpengaruh dibandingkan tinggi badan. Baiklah, dikorelasikan dengan tinggi badan 160 cm. Hal ini didukung oleh penelitian dari kawan kita Mas Adi Suryadi, dkk (Mahasiswa ITB) bahwa ada korelasi antara ukuran sepatu dengan tinggi badan. Dan dari hasil survey, tinggi badan perempuan 160 cm antara 36-39 cm. Kesimpulannya: Gue normal. Ukuran sepatu gue ...
Say Hello to Black Jack 1 Karya Ejiro Shimada & Yoh Tokiwa Rumah Sakit Eiroku dikenal dengan Atas Tanjakan karena jalannya yang menanjak, Saito tengah menempuh tanjakan dengan sepeda ketika menuju rumah sakit. Hari ini jadwal petemua tiga divisi, dalam, jantung dan bedah. Ada Bos Profesor Yoshinari Fujii dari divisi jantung. Mereka mulai memaparkan hasil pemeriksaan pasien masing-masing, termasuk hasil pemeriksaan Miyamura. Saito tiba-tiba menyarankan agar segera dioperasi, tetapi Yoshinari Fujii menolak karena sebagai profesor penyakit jantung merasa lebih paham. Dia juga menambahkan mereka berada “Di Atas Tanjakan” sehingga jika di tempat mereka tidak mampu menangani, maka yang lain pun pasti tidak akan mampu. Pulang dari rumah sakit, Saito bertemu dengan Kaori Akagi, perawat bagian operasi. Setelah bekerja dari beberapa rumah sakit, rumah sakit Eiroku termasuk peringkat rendah. Pengalaman darinya, ada pasien sudah sekarat tetapi tidak langsung diop...
BAB I Kota Metropolitan "Untuk menjadi seorang fotografer, kau harus mempunyai mata yang indah, Nak." Ujar lelaki setengah baya itu pada seorang bocah kecil yang masih terheran-heran dengan tongkat berkaki 3 itu. Setengah ingin bertanya tapi dia hanya memainkan jari-jemarinya. Lelaki itu menatap bola mata itu. Suci. Dan ia tersenyum padanya. Sementara si anak itu tersipu-sipu. "Ini mainan apa?" Tanyanya. Lelaki itu tertawa. "Jika seorang penulis mengukir sejarah dengan penanya, maka seorang fotografer akan mengukirnya dengan potret." "Jadi ini alat untuk main ukir-an?" "Bisa jadi, kau mau mencoba?" Tawarnya. "Boleh?" "Tentu.... Karena sejarah akan selalu berjalan. Dan kau, si pengungkit masa. Kabarkan kepada dunia bahwa.... Aku pernah ke sini. Di bawah langit yang sendu, Kotaku. Kemana pemuda kian ke kota? Padahal ladang menghampar amba?" Aku kembali menatap wajah bocah kecil itu....
Comments