Posts

Jobstreet Avengers

Image
Diantara project lainnya, saya pilih project paperless. Kami tahu bahwa pekerjaan kami tidak lepas dari ngeprint berkas. Seringnya ditemukan kertas tak terpakai di area printer menjadikan salah satu masalah yang perlu segera diselesaikan. Dibuatlah project Avengers dengan misi menghemat kertas. Saya pikir ini hal yang mudah dan mungkin semudah pelaksanaannya. Kertas bekas dijadikan notebook. Selesai. Namun, semakin ke sini ... Kertas bekas tidak hanya berhenti/cukup dikreasikan dengan cara dibuat menjadi notebook saja, tetapi masih ada beberapa kreasi lainnya. Maka mulai dikembangkanlah pemanfaatan kertas lebih dari sekedar notebook dengan cara membaginya menjadi kelompok-kelompok tertentu. Kebetulan belakangan ini masih trend dengan kemunculan Avengers. Padahal saya sendiri belum sempat atau bahkan enggak disempatkan untuk menontonnya. Nonton di bioskop? Ah... Enggak enak. Gelap-gelapan dan... Kursinya condong ke depan. Ngerasa engga sih? Iya lah condong ke depan bia...

Fakta dengan Konteks

Image
Ada postingan menarik di sebuah platform. Mengenai fakta dan konteks. Baik, saya akan ulas hal tersebut (kembali ke fakta dan konteks) dengan fenomena yang sering kita alami. . . . Seperti kasus demikian: Fakta : Ukuran sepatu saya 38,5. Belum tentu ukuran tersebut dikatakan kegedean/ kekecilan. Menilai fakta harus dikorelasikan dengan konteks. Konteksnya bisa berupa hal-hal yang mempengaruhinya. Fakta dari ukuran sepatu 38,5 dikorelasikan dengan tinggi badan 160 cm dan berat badan (berkaitan dengan volume). Dalam hal ini berat badan hampir sedikit mempengaruhi lebar ukuran sepatu. Tapi tidak terlalu berpengaruh dibandingkan tinggi badan. Baiklah, dikorelasikan dengan tinggi badan 160 cm. Hal ini didukung oleh penelitian dari kawan kita Mas Adi Suryadi, dkk (Mahasiswa ITB) bahwa ada korelasi antara ukuran sepatu dengan tinggi badan. Dan dari hasil survey,  tinggi badan perempuan 160 cm antara 36-39 cm. Kesimpulannya: Gue normal. Ukuran sepatu gue ...

Potret di Ujung Senja II

Image
( Gadisku ) #cerpen  ~Gadisku . . . Kameraku mengintai jejak-jejak pemudi sore itu. Dan selalu sore yang kuintai demi memburu senja. Karena akan selalu ada guratan semu, pertemuan rindu, aku kepada malam. Karena dalam gelap, semua akan terlelap. Meskipun beberapa ada yang diam lenyap. Termasuk, senjaku. Terpotret, gadis dalam balutan kemeja merah. Sumringah. Senyumnya renyah. Aku terpanah. Begitu mudahnya busur asmara lepas. Tak terkibas. Diam, aku mulai merekamnya. Jejak-jejak senja di pantai Cilacap kala itu. . . . Aku pikir, akan sirnah. Semua isi kepala tentang segala macam bualan remaja. Menepis, tipis-tipis. Aku mulai membiarkan jejaknya terkikis. Miris. Bukankah romance hanya klise? Dan bukankah butuh singahan lebih hanya sekedar untuk memilih, atau bahkan mentap? Aku terkesiap melangkah. Mengorek senja yang senantiasa manja. Dengan balutan-balutan merah, bak gadis senja yang entah kutaktahu namanya. Untuk serpihan-serpihan rasa, apakah semua akan be...

~ Potret di Ujung Senja ~ I

Image
BAB I  Kota Metropolitan "Untuk menjadi seorang fotografer, kau harus mempunyai mata yang indah, Nak." Ujar lelaki setengah baya itu pada seorang bocah kecil yang masih terheran-heran dengan tongkat berkaki 3 itu. Setengah ingin bertanya tapi dia hanya memainkan jari-jemarinya. Lelaki itu menatap bola mata itu. Suci. Dan ia tersenyum padanya. Sementara si anak itu tersipu-sipu. "Ini mainan apa?" Tanyanya. Lelaki itu tertawa. "Jika seorang penulis mengukir sejarah dengan penanya, maka seorang fotografer akan mengukirnya dengan potret." "Jadi ini alat untuk main ukir-an?" "Bisa jadi, kau mau mencoba?" Tawarnya. "Boleh?" "Tentu.... Karena sejarah akan selalu berjalan. Dan kau, si pengungkit masa. Kabarkan kepada dunia bahwa.... Aku pernah ke sini. Di bawah langit yang sendu, Kotaku. Kemana pemuda kian ke kota? Padahal ladang menghampar amba?" Aku kembali menatap wajah bocah kecil itu....

Wanita Karir

Image
Kan, kalau pakai jalur biasa yang sudah tahu rumus/pola perjalanan ke kantor mah engga telat. Rumus enggak telat: 1. Jam 07.00 wib sudah naik transportasi 2. Pakai jalur Semanggi 3. Jangan coba-coba pakai jalur Kuningan apalagi Duku atas Boleh coba, tapi usahakan lebih pagi? 4. Meskipun sambil dengerin musik/radio dan baca group Cuan. Tetep fokus dengan lingkungan. Sudah sampai mana? Lihat ke luar jendela kaca.

Believe yourself

Sebenarnya masih jadiPR untuk percaya bahwa kita bisa. Karena ada kalanya ketika kita melihat kekurangan justeru fokus pada kekurangan itu sendiri. Dan seringnya kita, yang ingin berusaha melakukan terbaik, justeru lebih melihat bagaimana penilaian orang terhadap kita. Begitupun dengan hal untuk berbisnis. Dalam berbisnis yang paling penting adalah percaya bahwa kita bisa. Melihat kekurangan untuk diperbaiki dan fokus pada kelebihan yang dimiliki. Jika kita punya kelebihan dalam menganalisa sehingga tidak terburu-buru mengambil keputusan, don't worry. This's good. Pahami diri/ karakter, tahu metodologi yang dipakai. Kalau karakter saya tidak mau merugi, maka metodologi yang saya pakai adalah metode cut loss. Jual ketika ada downtrend atau koreksi. Kok kamu jual diharga turun dan beli di harga pas naik? Goblok apa ya? Kamu yang goblok. Nggak mau tahu metode yang gue punya. Kamu pasti penganut metodologi avarage down. Nambah stok pas harga turun terus jual pa...

- Senantiasa Merasa Bodoh -

Saya tahu, setiap orang mempunyai point of view nya masing-masing. Point of view ini menurut saya sifatnya subjektif. Dan akan selalu berubah sesuai tempat/posisi kita berada. Seorang recruter akan mempunyai point of view yang berbeda dengan pelamar (jobseeker). Jobseeker yang belum mempunyai kesempatan untuk melanjutkan pendidikan tinggi, akan mempunyai point of view berbeda dengan jobseeker yang telah diberi kesempatan menyelesaikan pendidikan tertinggi. Dan sepertinya 2 contoh ini sering berseliweran di beranda. Yang tidak akan menemukan kebenerannya. Karena masing-masing "tempat/ posisi" akan mencari pembenaran. Kecuali, jika anda sudah merasakan semua "tempat/ poisi" tersebut. Lebih baiknya sih, tidak perlu merasa lebih baik dari yang lain. Itu seolah menunjukan bahwa ia sedang menghibur diri dari kenyataan yang menyakitkan. Betul atau bener? Hehe ~ Dan sebenarnya, orang pintar adalah orang yang senantiasa merasa bodoh. Kenapa? Ia selalu belajar ...